Berita Otomotif - Laga kedua seluruh kontenstan Piala Dunia 2010 tuntas sudah.Dari perhelatan ini, ada tim yang sudah pasti lolos ke Babak 16 Besar, dan sebaliknya ada pula nan tersisih. Namun mayoritas di antaranya masih harus berjuang dan mengantungkan harapan pada laga pamungkas putaran penyisihan mulai Selasa (22/6) hari ini.
Meksiko Vs Uruguay - Penulis sengaja mengangkat hal ini sebab, laga pamungkas penyisihan grup bukan saja merupakan partai hidup mati menentukan diperpanjang tidaknya “visa” mengolah si kulit bundar di Afsel. Tapi laga pusingan terakhir ini sekaligus dimulainya babak fair play sesungguhnya.
Sesperti disebut di alinea pertama tadi, mayoritas tim peserta masih harus berjuang menentukan nasibnya melalui laga terakhir. Sakitnya lagi, di antara peserta ada pula nasibnya yang bergantung pada tim lain. Seperti tuan rumah Afsel misalnya. Raihan satu poin dari dua laga sebelumnya, membuat anak didik Carlos Alberto Parreira dituntut menang di atas tiga gol melawan Prancis. Sebaliknya, Prancis juga demikain. Dan keduanya sama berharap laga Meksiko vs Uruguay tidak berakhir seri.
Inilah yang penulis sebut bahwa laga terakhir penyisihan grup merupakan babak fair play sesungguhnya. Artinya, mampukah tim peserta menjaga roh-nya olahraga (sepakbola tentunya) itu?. Melihat fenomena yang terjadi sejak PD 2010 digelar 11 Juni lalu, seluruh kontestan sepertinya masih menjunjung tinggi fair play. Memang jika dilihat dari jumlah kartu hukuman yang beredar, baik itu kartu kuning maupun merah, terbilang cukup banyak.
Seperti kartu merah misalnya, hingga laga Chili vs Swiss atau memasuki pertandngan ke-30, sudah beredar 10 kartu merah yang masing-masing diberikan kepada Nicolas Lodeiro (Uruguay), Tim Cahill (Australia), Aleksandar Lukovic (Serbia), Abdelkader Ghezzal (Aljazair), Itumeleng Khune (Afsel),Sani Kaita (Nigeria), Miroslav Klose (Jerman), Harry Kewell (Australia), Kaka (Brasil) dan Valon Behrami (Swiss). Sementara penerima kartu kuning jauh lebih besar, lebih 100 kartu. Lantas apakah ini bisa dikatakan tingkat fair play peserta melemah?.
Bagi penulis jawabannya adalah tidak.Bahkan sebaliknya. Sebab meski jumlah kartu yang dikeluarkan pengadil (wasit) cukup banyak, namun tim peserta bisa menerima lapang dada. Lagipula, rekor kartu terbanyak masih terjadi pada laga Belanda vs Portugal di PD Jerman 2006. Ketika itu Wasit Valentin Ivanov (Rusia) harus mengeluarkan total 16 kartu. Kedua tim saat itu harus menuntaaskan laga dengan sembilan pemain.
Memang ada kesan wasit terlalu royal memberi kartu hukuman.Bahkan dari beberapa laga, dugaan terjadinya kekeliruan pengadil memberi putusan juga terjadi. Seperti dibatalkannya gol ketika AS saat melawan Slovenia oleh Wasit Koman Coulibali asal Mali.
Namun kita sudah pernah membahas melalui kolom ini bahwa pemain, oficial maupun wasit juga adalah manusia biasa yang tak luput segala kekurangan dan kesilapan. Karenanya kita wajar salut, bahkan sekali lagi tidak perlu malu untuk belajar dari pelaksanaan ini, khususnya masalah fair play.
Satu hal yang perlu dicatat untuk dicermati adalah sikap pemain, oficial bahkan pendukung tuan rumah Afsel yang bisa menerima keputusan Wasit Massimo Busacca dari Swiss yang memberi kartu merah kepada kiper Itumeleng Khune plus hukuman penalti yang membuat Afsel kalah 0-3 dari Uruguay. Padahal saat itu tuan rumah sangat butuh kemenangan.
Karena itu pulalah, penulis berkeyakinan penuh, suasana dan nuansa fair play tetap akan berlaku di laga penyisihan grup terakhir Pool A, baik antara laga Prancis vs Afsel maupun Meksiko melawan Uruguay. Para pemain atau perangkat tim dan pertandingan yang berkiprah di Piala Dunia 2010, tentu tak ingin menodai roh-nya olahraga, fair play/sportifitas. Apalagi mereka hadir sebagai duta bangsa.Mari sama kita saksikan.
Meksiko Vs Uruguay - Penulis sengaja mengangkat hal ini sebab, laga pamungkas penyisihan grup bukan saja merupakan partai hidup mati menentukan diperpanjang tidaknya “visa” mengolah si kulit bundar di Afsel. Tapi laga pusingan terakhir ini sekaligus dimulainya babak fair play sesungguhnya.
Sesperti disebut di alinea pertama tadi, mayoritas tim peserta masih harus berjuang menentukan nasibnya melalui laga terakhir. Sakitnya lagi, di antara peserta ada pula nasibnya yang bergantung pada tim lain. Seperti tuan rumah Afsel misalnya. Raihan satu poin dari dua laga sebelumnya, membuat anak didik Carlos Alberto Parreira dituntut menang di atas tiga gol melawan Prancis. Sebaliknya, Prancis juga demikain. Dan keduanya sama berharap laga Meksiko vs Uruguay tidak berakhir seri.
Inilah yang penulis sebut bahwa laga terakhir penyisihan grup merupakan babak fair play sesungguhnya. Artinya, mampukah tim peserta menjaga roh-nya olahraga (sepakbola tentunya) itu?. Melihat fenomena yang terjadi sejak PD 2010 digelar 11 Juni lalu, seluruh kontestan sepertinya masih menjunjung tinggi fair play. Memang jika dilihat dari jumlah kartu hukuman yang beredar, baik itu kartu kuning maupun merah, terbilang cukup banyak.
Seperti kartu merah misalnya, hingga laga Chili vs Swiss atau memasuki pertandngan ke-30, sudah beredar 10 kartu merah yang masing-masing diberikan kepada Nicolas Lodeiro (Uruguay), Tim Cahill (Australia), Aleksandar Lukovic (Serbia), Abdelkader Ghezzal (Aljazair), Itumeleng Khune (Afsel),Sani Kaita (Nigeria), Miroslav Klose (Jerman), Harry Kewell (Australia), Kaka (Brasil) dan Valon Behrami (Swiss). Sementara penerima kartu kuning jauh lebih besar, lebih 100 kartu. Lantas apakah ini bisa dikatakan tingkat fair play peserta melemah?.
Bagi penulis jawabannya adalah tidak.Bahkan sebaliknya. Sebab meski jumlah kartu yang dikeluarkan pengadil (wasit) cukup banyak, namun tim peserta bisa menerima lapang dada. Lagipula, rekor kartu terbanyak masih terjadi pada laga Belanda vs Portugal di PD Jerman 2006. Ketika itu Wasit Valentin Ivanov (Rusia) harus mengeluarkan total 16 kartu. Kedua tim saat itu harus menuntaaskan laga dengan sembilan pemain.
Memang ada kesan wasit terlalu royal memberi kartu hukuman.Bahkan dari beberapa laga, dugaan terjadinya kekeliruan pengadil memberi putusan juga terjadi. Seperti dibatalkannya gol ketika AS saat melawan Slovenia oleh Wasit Koman Coulibali asal Mali.
Namun kita sudah pernah membahas melalui kolom ini bahwa pemain, oficial maupun wasit juga adalah manusia biasa yang tak luput segala kekurangan dan kesilapan. Karenanya kita wajar salut, bahkan sekali lagi tidak perlu malu untuk belajar dari pelaksanaan ini, khususnya masalah fair play.
Satu hal yang perlu dicatat untuk dicermati adalah sikap pemain, oficial bahkan pendukung tuan rumah Afsel yang bisa menerima keputusan Wasit Massimo Busacca dari Swiss yang memberi kartu merah kepada kiper Itumeleng Khune plus hukuman penalti yang membuat Afsel kalah 0-3 dari Uruguay. Padahal saat itu tuan rumah sangat butuh kemenangan.
Karena itu pulalah, penulis berkeyakinan penuh, suasana dan nuansa fair play tetap akan berlaku di laga penyisihan grup terakhir Pool A, baik antara laga Prancis vs Afsel maupun Meksiko melawan Uruguay. Para pemain atau perangkat tim dan pertandingan yang berkiprah di Piala Dunia 2010, tentu tak ingin menodai roh-nya olahraga, fair play/sportifitas. Apalagi mereka hadir sebagai duta bangsa.Mari sama kita saksikan.